Bisnis.com, JAKARTA - Pemilihan bahan bakar minyak (BBM) yang sesuai dengan spesifikasi mesin kendaraan sangat penting untuk menjaga kinerja dan umur panjang mesin.
Bahaya penggunaan BBM oplosan terhadap kendaraan tengah ramai diperbincangkan publik usai mencuatnya kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam Tata Kelola Minyak Mentah dan Produk Kilang PT Pertamina (Persero), Sub Holding dan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) tahun 2018-2023.
Dalam kasus tersebut, Kejaksaan Agung (Kejagung) telah menetapkan 7 orang tersangka. Adapun, kerugian negara pada kasus tersebut mencapai Rp193,7 triliun.
Lantas, apa dampak dari penggunaan BBM oplosan atau BBM dengan kadar oktan rendah?
Penggunaan BBM dengan nilai oktan (Research Octane Number/RON) lebih rendah dari yang direkomendasikan dapat berdampak negatif pada performa dan kesehatan mesin.
Jika pengguna kendaraan mengabaikan hal ini, maka dapat berakibat pada penurunan performa, peningkatan konsumsi bahan bakar, dan kerusakan serius pada mesin.
Baca Juga
Oleh karena itu, sebagai pemilik kendaraan, penting untuk selalu memperhatikan spesifikasi BBM yang dianjurkan demi menjaga kinerja dan umur panjang kendaraan Anda.
Pengertian Nilai Oktan
Nilai oktan mengindikasikan kemampuan bahan bakar untuk menahan tekanan sebelum terbakar secara spontan. Semakin tinggi nilai oktan, semakin besar tekanan yang dibutuhkan untuk pembakaran.
Mesin dengan rasio kompresi tinggi memerlukan BBM beroktan tinggi untuk mencegah detonasi atau "knocking", yaitu pembakaran tidak terkendali yang dapat merusak komponen mesin.
Berikut dampak penggunaan BBM beroktan rendah seperti dilansir dari berbagai sumber:
1. Detonasi (Knocking)
Penggunaan BBM dengan oktan lebih rendah dari yang dianjurkan dapat menyebabkan detonasi, yaitu ledakan tidak terkendali dalam ruang bakar mesin. Detonasi ini dapat merusak komponen mesin dan menurunkan efisiensi pembakaran.
2. Penurunan Performa Mesin
BBM beroktan rendah pada mesin yang dirancang untuk oktan tinggi dapat menyebabkan penurunan tenaga dan efisiensi mesin. Hal ini disebabkan oleh pembakaran yang tidak sempurna, sehingga mesin tidak dapat menghasilkan tenaga optimal.
3. Mesin Lebih Boros
Karena mesin mengalami penurunan tenaga, maka biasanya pedal gas akan lebih sering diinjak dalam-dalam. Hal ini akan membuat mesin menjadi lebih boros BBM dibandingkan dengan menggunakan BBM dengan oktan yang lebih tinggi.
4. Mesin Lebih Kotor
Dengan oktan yang lebih rendah, akan terjadi detonasi pada mesin. Hal ini akan membuat mesin juga lebih kotor karena adanya kerak karbon. Kotoran pada mesin ini sendiri cukup sulit untuk dibersihkan.
5. Peningkatan Emisi Gas Buang
Pembakaran yang tidak sempurna akibat penggunaan BBM beroktan rendah dapat meningkatkan emisi gas buang seperti karbon monoksida (CO) dan hidrokarbon (HC). Hal ini berdampak negatif pada lingkungan dan kesehatan.
Untuk menjaga kesehatan mesin kendaraan, setiap produsen telah merancang mesin dengan spesifikasi tertentu, termasuk rekomendasi nilai oktan BBM yang sesuai. Mengikuti rekomendasi ini tidak hanya memastikan performa optimal, tetapi juga mencegah kerusakan dini pada mesin.
Selain itu, penggunaan BBM yang tepat berkontribusi pada efisiensi bahan bakar dan pengurangan emisi gas rumah kaca.