Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Strategi Selamat Sempurna (SMSM) di Tengah Badai PHK Industri Komponen

PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM) mengatasi badai PHK di industri komponen otomotif dengan strategi diversifikasi produk, perluasan pasar, dan efisiensi operasional
Gedung pabrik komponen otomotif PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM)/smsm.co.id
Gedung pabrik komponen otomotif PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM)/smsm.co.id
Ringkasan Berita
  • PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM) menghindari PHK dengan strategi diversifikasi produk, perluasan pasar, dan peningkatan efisiensi operasional.
  • SMSM fokus pada segmen produk dengan margin lebih baik dan memanfaatkan kekuatan ekspor untuk menjaga kinerja di tengah ketidakpastian global.
  • Industri komponen otomotif Indonesia mengalami PHK massal akibat penurunan pasar domestik dan meningkatnya impor completely built up (CBU) kendaraan listrik.

* Ringkasan ini dibantu dengan menggunakan AI

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten komponen otomotif, PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM) menyiapkan sejumlah strategi di tengah kondisi badai pemutusan hubungan kerja (PHK) yang melanda industri komponen.

Wakil Direktur Utama SMSM, Ang Andri Pribadi mengatakan, perseroan melihat fenomena PHK massal di industri komponen otomotif kemungkinan terjadi pada sebagian perusahaan yang terdampak langsung dan signifikan oleh pergeseran pasar. 

"Lebih lanjut, hingga saat ini kondisi PHK massal tersebut tidak terjadi di perseroan," ujar Andri kepada Bisnis, dikutip Sabtu (30/8/2025).

Sebaliknya, dia mengatakan, perseroan terus menjaga keberlangsungan tenaga kerja melalui strategi diversifikasi produk, perluasan pasar, serta peningkatan efisiensi operasional. Sebab, tenaga kerja merupakan aset penting yang mendukung keberlanjutan bisnis perseroan.

Menurutnya, SMSM menilai prospek industri komponen otomotif hingga akhir 2025 masih akan dipengaruhi oleh dinamika makroekonomi dan geopolitik global. Faktor utama yang perlu dicermati mencakup potensi eskalasi tarif di beberapa negara tujuan ekspor, serta fluktuasi nilai tukar yang dapat mempengaruhi daya saing harga produk di pasar internasional. 

Selain itu, kondisi tersebut turut berdampak pada volatilitas harga bahan baku dan energi, serta meningkatkan risiko gangguan rantai pasok global. Dalam situasi ini, pelaku industri dituntut untuk semakin adaptif dalam menjaga efisiensi, stabilitas biaya, dan daya saing produk agar tetap kompetitif di tengah ketidakpastian.

"Dari sisi portofolio produk, perseroan secara konsisten melakukan optimalisasi product mix dengan berfokus pada segmen yang memiliki margin lebih baik, yaitu heavy-duty & commercial vehicle, serta lini non-engine filtration seperti HVAC dan industrial filtration," jelasnya.

Pendekatan tersebut tak hanya menjadi penyangga terhadap tren elektrifikasi kendaraan, tetapi juga membuka peluang ekspansi di sektor dengan prospek jangka panjang, termasuk konstruksi, kesehatan, farmasi, hingga pembangkit listrik. Manajemen meyakini strategi ini mampu memberikan pertumbuhan yang lebih stabil dalam beberapa tahun mendatang.

Terlebih, ditambah dengan kinerja kuat di pasar ekspor, SMSM juga meraih keuntungan tambahan saat dolar AS menguat terhadap rupiah. Kondisi ini membantu menjaga margin di tengah ketidakpastian global.

"Dengan kombinasi strategi efisiensi, diversifikasi produk, dan kekuatan ekspor, perseroan optimistis dapat menjaga kinerja yang berkelanjutan dan tetap relevan menghadapi perubahan industri hingga akhir 2025," pungkas Andri.

PHK Massal Industri Komponen

Diberitakan sebelumnya, Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) buka-bukaan mengenai kondisi industri komponen otomotif Tanah Air yang kini dilanda badai pemutusan hubungan kerja (PHK).

Sekretaris Jenderal GIAMM Rachmat Basuki mengonfirmasi bahwa terjadi PHK massal di beberapa perusahaan komponen otomotif, sejalan dengan lesunya penjualan kendaraan di pasar domestik.

"Benar, beberapa anggota GIAMM ada yang mengurangi jumlah karyawan karena penurunan domestik market," ujar Basuki kepada Bisnis, Selasa (26/8/2025).

Lebih lanjut dia mengatakan, kondisi itu diperparah dengan banjir impor mobil listrik (battery electric vehicle/BEV) secara utuh alias completely built up (CBU) yang kian menggerus penjualan komponen lokal.

"Sudah market turun, ditambah banyaknya CBU masuk, baik EV maupun truk. Artinya suplai anggota GIAMM ke pabrikan mobil semakin sedikit," jelasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rizqi Rajendra
Bisnis Indonesia Premium.

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Bisnis Indonesia Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro